Syekh Buyut Harun Banada, Sosok Ulama Kaya Yang Sederhana

KH. Harun bin Syekh Dadi Abdussalam atau dikenal juga dengan sebutan Syekh Buyut Harun Banada, dilahirkan di kampung Banada Desa Mirat Kecamatan Leuwimunding Majalengka, sekitar tahun 1816 M. Perkiraan tahun kelahiran beliau didasarkan pada cerita turun temurun, bahwa 3 (tiga) orang putra beliau, yakni Kiai Abdullah, Kiai Anwar dan Kiai Abdul Mun’im melakukan perjalanan menuntut ilmu kepada Syaikhina Kholil Bangkalan. Sedangkan masa hidup Syekhona Kholil sebagaimana dijelaskan oleh situs wikipedia, org, adalah tahun 1820-1925

Syekh Buyut Harun Banada merupakan putra dari seorang ulama kharismatik Kecamatan Leuwimunding, yakni Syekh Dadi Abdussalam. Belum ada data yang berhasil ditelusuri perihal nama Ibu Syekh Buyut Harun.

Syekh Buyut Dadi Abdussalam berasal dari Blok Paleben Desa Leuwimunding. Pada sekitar tahun 1770 M. beliau pindah ke hutan yang berada di sebelah timur Tarikolot Desa Mirat. Kepindahan beliau ke daerah yang masih merupakan hutan belantara tersebut sebagai akibat dari tekanan penjajah Belanda Distrik Leuwimunding, yang selalu mengganggu dakwah islamiyah beliau. Beliau memilih hutan belantara sebagai tempat tinggal yang baru agar lebih tenang dalam mengajarkan pendidikan agama kepada masyarakat dan lebih aman dalam menyusun strategi melawan penjajah Belanda.

Maka di sanalah Syekh Buyut Dadi Abdussalam melakukan pembabatan hutan sehingga menjadi sebuah perkampungan baru dengan nama kampung Banada. Selanjutnya, di kampung tersebut Syekh Buyut Dadi Abdussalam mendirikan sebuah pondok pesantren dengan nama yang sama, yaitu Banada. Terkait penamaan Banada, H. Yazid bin KH. Abdul Muin bin KH. Mahfudz bin KH. Abdul Mun’im bin Syekh Buyut Harun, menceritakan rahasia yang menjelaskan asal usul penamaan tersebut. Untuk cerita ini akan penulis sajikan dalam judul tersendiri.

Pengembaraan Tholabul Ilmi Syekh Buyut Harun Banada

Perihal masa kecil dan remaja Syekh Buyut Harun, serta pengembaraan menuntut ilmu agama penulis belum mendapat penjelasan yang pasti, baik melalui tulisan maupun cerita yang turun temurun. Namun demikian, kalo melihat ketiga putra beliau, yakni Kyai Abdullah, Kyai Anwar dan Kyai Abdul Mun’im yang menuntut ilmu ke Pondok Pesantren Sidoresmo Surabaya dan Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan Madura, maka dapat dipastikan bahwa Syekh Buyut Harun juga pada masa remajanya pernah melakukan pengembaraan tholabul Ilmi, selain kepada ayahnya sendiri, juga ke pondok-pondok pesantren lain yang pada masa itu terkenal keilmuannya. Apalagi putranya, Kyai Abdullah, selain mesantren di Syaikhina Kholil Bangkalan juga mesantren di Makkah al-Mukarromah hingga wafatnya di sana.

Syekh Buyut Harun Memimpin Pondok Pesantren Banada

Sepeninggal ayahnya, Syekh Buyut Dadi Abdussalam, maka tampuk kepengasuhan pondok pesantren Banada dilanjutkan oleh Syekh Buyut Harun. Pada masa kepengasuhan beliau, perkembangan pesantren mengalami peningkatan. Santri yang mengikuti pendidikan bukan hanya berasal dari wilayah kecamatan Leuwimunding, tetapi juga dari daerah lain seperti Rajagaluh, Sindangwangi, Sumberjaya, Palasah, Jatiwangi, dan bahkan dari kabupaten Cirebon dan Indramayu. Saat penulis masih usia SMP sering mendengar beberapa kyai yang menceritakan bahwa ayah atau kakek mereka pernah mondok di pesantren Banada Mirat. Sayangnya, waktu itu belum ada dalam pikiran penulis untuk mencatat pengakuan dan jati diri mereka. Pada masa kepengasuhan Syekh Buyut Harun juga, pondok pesantren Banada sering dijadikan tempat bersembunyi dan berkumpul para pejuang dalam menyusun strategi melawan penjajah Belanda. Kondisi dan Situasi Pondok yang jauh dari perkampungan penduduk memang sangat mendukung untuk tempat bersembunyi dan bermusyawarah.

Nasab dan Silsilah Syekh Buyut Harun Banada

Syekh Buyut Harun Banada merupakan keturunan dari Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunungjati dari garis keturunan Sultan Hasanuddin Banten. Nasab ini penulis dapatkan dari keterangan KH. Marzuki bin K. Salim bin K. Amin bin Nyai Maemunah binti Syekh Buyut Harun. Beliau pernah mendengar dari almarhum KH. Sayuti bin KH. Anwar bin Syekh Buyut Harun, bahwa Syekh Buyut Harun Nasabnya bersambung kepada Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunungjati Cirebon, melalui jalur Sultan Hasanuddin Banten.

Dalam catatan Kyai Fuad bin Sya’ban bin KH. Nasuha bin Sykeh Buyut Harun, yang diperoleh dari almarhum KH. Abd. Rosyad bin Nyai Rofi’ah binti Nyai Maemunah binti Syekh Buyut Harun, nasab dan silsilah Syekh Buyut Harun adalah sebagai berikut :

  1. Syekh Buyut Harun Banada, bin :
  2. Syekh Buyut Dadi Abdussalam Banada, bin :
  3. Syekh Atqiya, bin :
  4. Syekh Adzkiya, bin :
  5. Syekh H. Qomaruddin, bin :
  6. Syekh Tubagus Manshur, keturunan ke atasnya :
  7. Maulana Muhammad, bin :
  8. Sultan Ageng Tirtayasa Abdul Fattah, bin :
  9. Pangeran Abdul Maáli Ahmad, bin :
  10. Pangeran Abdul Mufahir Mahmud, bin :
  11. Maulana Muhammad Pangeran Ratu Ing Banten , bin :
  12. Maulana Yusuf Panembahan Pakalangan Gede, bin :
  13. Sultan Hasanuddin Panembahan Surosowan, bin :
  14. Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Cirebon

Sosok Ulama Kaya Yang Sederhana

Menyematkan KH. Harun atau Syekh Buyut Harun Banada dengan predikat orang kaya adalah bukan hal yang aneh, karena memang beliau seorang yang kaya. Bukti beliau orang kaya antara lain :

  1. Pembangunan pondok pesantren Banada yang cukup luas dan berkembang. Pada masa itu belum ada istilah sumbangan atau proposal. Pembangunan pondok pesantren atau madrasah adalah murni dari harta pribadi pengasuhnya;
  2. Putra-putri Syekh Buyut Harun semuanya menuntut ilmu (mondok) di pondok pesantren, bahkan dalam menuntut ilmu mereka ada yang melakukan pengembaraan ke daerah-daerah yang jauh seperti Surabaya, Madura bahkan ke Makkah al-Mukarromah. Tentu untuk memenuhi kebutuhan putra-putrinya yang mondok dibutuhkan biaya yang tidak sedikit;
  3. Wilayah Banada merupakan sebuah perkampungan yang terdiri dari pemukiman dan perkebunan. Tanah yang sangat luas tersebut saat ini dimiliki oleh anak keturunan Syekh Buyut Harun. Hampir semua anak keturunan Syekh Buyut Harun memiliki bagian tanah perkebunan di Banada. Dan tentunya asal usul tanah tersebut merupakan warisan dari Syekh Buyut Harun. Belum lagi tanah di komplek Janawi desa Mirat yang menurut cerita adalah tanah milik Syekh Buyut Harun yang dibeli oleh menantunya, Mbah KH. Thoyib.

Walaupun Syekh Buyut Harun memiliki kekayaan yang lumayan, tetapi beliau tetap hidup dengan sederhana. Kekayaannya tidak digunakan untuk kemewahan hidup, melainkan untuk perjuangan dakwah islamiyah dan membantu perjuangan melawan penjajah Belanda. Penulis pernah mendengar dari ayahanda penulis, yakni Kiai Salim bin Kiai Amin bin Nyai Maemunah binti Syekh Buyut Harun, bahwa Kehidupan dan kekayaan Syekh Buyut Harun diperuntukan bagi khidmat kepada ilmu agama dan perjuangan melawan penjajah. Makanya anak keturunan Syekh Buyut Harun itu ada dua type : yakni jadi kyai (ahli ilmu) yang tidak pernah kaya dan jadi orang kaya yang tidak berilmu.

Putra-Putri Syekh Buyut Harun Banada

Syekh Buyut Harun Menikah dengan Nyai Siti Robe’ah binti Syekh Buyut Nur Qiyam Dukuh Asih Parungjaya Leuwimunding. Hasil pernikahannya, beliau dikaruniai 7 orang putra dan putri, yaitu :

  1. Nyai Marfu’ah, menikah dengan KH. Thoyib dari pondok pesantren Cisambeng palasah Majalengka. KH. Thoyib atau oleh dzurriyah banada lebih akrab dipanggil Mbah Thoyib, merupakan seorang ulama dan pengusaha. Diceritakan, saat bapak mertuanya -Syekh Buyut Harun akan melaksanakan ibadah haji bersama istrinya, dua orang putranya : Kyai Abdullah dan Kyai Abdul Mun’im, maka Mbah Thoyib membeli tanah milik mertuanya tersebut yang terletak di Janawi sekarang untuk menambah ongkos naik haji. Keturunan Nyai Marfu’ah banyak bermukim di Blok Janawi Desa Mirat Kecamatan Leuwimunding dan di Cisambeng palasah;
  2. Nyai Urfiyah, menikah dengan KH. Tholhah bin Indung Anwar bin Syekh Buyut Dadi, paleben desa Leumimunding. Keturunan beliau banyak bermukim di Leuwimunding;
  3. KH. Abdullah, beliau wafatsaat menuntut ilmu di Makkah Al-Mukarromah. Beliau tidak memiliki keturunan karena belum menikah;
  4. KH. Anwar, menikah dengan Nyai Ruqoyah binti KH. Abdul Hadi Kaliwaron Surabaya. Menurut KH. Marzuki Surabaya, nama asli beliau sebenarnya adalah Abdul Rozaq. Setelah menunaikan ibadah haji diganti dengan nama Anwar. Ada cerita menarik tentang pernikahan KH. Anwar dengan Nyai Ruqoyah yang akan penulis sajikan dalam judul yang khusus. KH. Anwar menikah lagi (setelah Nyai Ruqoyah Wafat) dengan seorang wanita anak dari KH. Panji tapi tidak mempunyai anak. Kemudian menikah lagi dengan keponakan Nyai Ruqoyah yang bernama Nyai Hafsoh;
  5. Nyai Maemunah, menikah dengan KH. Manshur bin Syekh Buyut Madinah. KH. Manshur inilah yang membantu ayah mertuanya mengajar di pondok pesantren Banada, bahkan sepeninggal mertuanya beliau yang melanjutkan kepengasuhan pondok;
  6. KH. Abdul Mun’im, menikah dengan Nyai Ifik Zubaedah binti Mbah Kyai Ismail Kedungwuni Panyingkiran Majalengka. Nyai Ifik merupakan adik kandung dari Mbah Masduqi al Muqri yang mukim di Balerante Cirebon;
  7. KH. Nasuha, menikah dengan Nyai Sukimah binti Nyai Lamirah binti Syekh Buyut Madinah. Anak keturunan Kyai Nasuha banyak bermukim di desa Mirat, Leuwimunding, Sindangwangi, Sumberjaya dan Babadan Kertasmaya Indramayu.

Syekh Buyut Harun Banada wafat sekitar tahun 1886 M. Beliau dimakamkan di komplek pemakaman Banada Desa Mirat Kecamatan Leuwimunding. Maqbarohnya selalu ramai diziyarahi oleh para dzurriyah dan masayarakat, baik dari wilayah maupun luar kecamatan Leuwimunding.

Lahu Al-Fatihah

Banada, 17 Juni 2020

Penulis,

Emna elganavi [H. Nasir bin K. Salim bin K. Amin bin Nyai Maemunah binti Syekh Buyut Harun]

One Comment on “Syekh Buyut Harun Banada, Sosok Ulama Kaya Yang Sederhana”

  1. Punten wa haji dewan koreksi sakedik,kyai rosad binti rofiah bukan binti marfuah tp binti maemunah/mansyur,karena bu rofiah kakany buyut amin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *