Sejarah Pondok Pesantren Banada Mirat Leuwimunding

Pondok Pesantren Banada terletak di kaki gunung Sanghyang Dora Desa Mirat Kecamatan Leuwimunding Kabupaten Majalengka Jawa Barat, sekitar 2 km dari ibukota kecamatan Leuwimunding, dan sekitar 1 km dari balai desa Mirat.

Untuk menuju lokasi pondok  dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Apabila menggunakan kendaraan roda dua maka bisa langsung sampai ke area maqbaroh. Tapi jika dengan roda empat maka mobil dapat diparkir di depan Madrasah Miftahul Ulum Tarikolot desa Mirat, kemudian jalan kaki dengan medan menanjak sekitar 400 meter.

Pondok Pesantren Banada didirikan sekitar tahun 1770 M oleh Syekh Buyut Dadi Abdussalam. hal ini berdasarkan cerita turun temurun di kalangan dzurriyah Banada.  Rujukan lain sebagai sumber sejarah adalah dikemukakan dalam blog Sejarah Desa Mirat yang ditulis oleh Arta Sugiarta, juru tulis desa Mirat, Disebutkan dalam blog tersebut bahwa terdapat 2 (dua) orang tokoh ulama yang ada di Desa Mirat. Yaitu Buyut Dadi yang mendirikan pondok pesantren Banada, dan Buyut Tuban yang mendirikan pondok pesantren Dukuh Mentik (sebelah timur Sukamenak desa Parungjaya sekarang).

Syekh Buyut Dadi Abdussalam adalah seorang tokoh ulama yang lahir dan dibesarkan di daerah Paleben Desa Leuwimunding Kecamatan Leuwimunding Majalengka. Selain sebagai tokoh ulama, beliau juga dikenal sebagai tokoh pejuang kemerdekaan RI dalam melawan penjajah Belanda.  Beliau merupakan putra dari Syekh Atqiya. Garis keturunan beliau ke atasnya sampai kepada Syekh Syarif Hidayatullah Kanjeng Sunan Gunungjati Cirebon melalui garis keturunan Sultan Hasanuddin Banten.

Pada sekitar tahun 1770 M. beliau pindah ke hutan yang berada di sebelah timur Tarikolot Desa Mirat. Kepindahan beliau ke daerah yang masih merupakan hutan belantara tersebut sebagai akibat dari tekanan penjajah Belanda Distrik Leuwimunding, yang selalu mengganggu dakwah islamiyah beliau. Beliau memilih hutan belantara sebagai tempat tinggal yang baru agar lebih tenang dalam mengajarkan pendidikan agama kepada masyarakat dan lebih aman dalam menyusun strategi melawan penjajah Belanda.

Maka di sanalah Syekh Buyut Dadi Abdussalam melakukan pembabatan hutan sehingga menjadi sebuah perkampungan baru dengan nama kampung Banada. Selanjutnya, di kampung tersebut Syekh Buyut Dadi Abdussalam mendirikan sebuah pondok pesantren dengan nama yang sama, yaitu Pondok Pesantren Banada. Terkait penamaan Banada, H. Yazid bin KH. Abdul Muin bin KH. Mahfudz bin KH. Abdul Mun’im bin Syekh Buyut Harun, menceritakan rahasia yang menjelaskan asal usul penamaan tersebut. Untuk cerita ini akan penulis sajikan dalam judul tersendiri.

Pada awal pendirian, santri Pondok Pesantren Banada kebanyakan diikuti oleh santri kalong dan hanya beberapa orang yang mukim menginap. Itupun kebanyakan merupakan kerabat Syekh Buyut Dadi yang berasal dari Desa Leuwimunding. Namun seiring dengan berjalannya waktu maka semakin banyak pula yang menimba ilmu di Banada.

Masa Kepengasuhan Syekh Buyut Harun dan Buyut Madinah

Setelah syekh Buyut Dadi Abdussalam wafat pada tahun 1790-an, maka tampuk kepengasuhan Pondok Pesantren Banada dlanjutkan oleh putra beliau, yakni Syekh Buyut Harun. Pada masa kepengasuhan beliau selama kurang lebih 40 tahun (1790-1830 M) pondok pesantren Banada mengalami kemajuan yang pesat. Santri yang belajar bukan hanya berasal dari wilayah  Kecamatan Leuwimunding, melainkan juga dari kecamatan lain bahkan dari luar kabupaten Majalengka. Kemajuan ini tidak lepas dari peran Syekh Buyut Harun dalam ikut serta menghimpun kekuatan perlawanan rakyat dalam menghadapi penjajah Belanda. Bahkan pondok pesantren Banada seringkali dijadikan sebagai basis gerilya para pejuang.

Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Banada:

1.      Syekh KH. Dadi Abdussalam  1770-1790

2.      Syekh KH Harun bin KH. Dadi Abd. Salam  1790-1830

3.      Syekh KH. Mansur bin KH. Madinah 1830-1870

4.      Syekh KH. Abdul Mun’im 1870-1900

5.      Syekh K. Amin bin KH. Mansur 1900-1935

6.      Masa vakum

7.      K. Mahalli Azis 1996-2010

8.      Masa vakum

9.      K. Fuad Sya’ban 2019 sd sekarang

Banada-Janawi, 7 Juni 2020

Emna el-Ganavi (H. Nasir bin H. Salim bin K. Amin bin Nyai Maemunah binti Sykeh KH. Harun Banada)

Sumber :

artasugiarto,blogspot,com ; sejarah singkat desa mirat

chozinnasuha,blogspot,com ; keluarga kyai pesantren babakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *