Cerita Buyut Tuban Disebut Kyai Kirik

Alkisah, pada suatu waktu ada seorang kyai di pondok pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon sedang mempunyai hajat walimahan. Buyut Tuban bin Syekh Buyut Nursomad turut hadir bersama dengan adiknya, Buyut Madinah.

Di tempat hajat, Buyut Tuban karena sudah sepuh hanya duduk-duduk santai di masjid sambil melihat-lihat kesibukan hajat. Sedangkan adiknya, Buyut Madinah, dia suruh untuk membantu pekerjaan di dapur. Tidak jauh dari tempat duduk Buyut Tuban, berkumpul pula beberapa kyai Babakan sambil ngobrol ke sana kemari.

Tidak berselang lama datanglah seorang kyai lain yang turut duduk bersama dengan para kyai. Kyai yang baru datang lalu menoleh ke arah Buyut Tuban., kemudian bertanya kepada para kyai.

“itu siapa yang duduk di sermbi masjid”. Para kyai menjawab ” oh itu Kyai Tuban dari Leuwimunding”.

“Oohh Kyai Kirik ya”, kata kyai itu.

Buyut Tuban memang memelihara anjing untuk menjaga kebunnya dan untuk mengantar tamu-tamunya yang pulang lewat pabrik gula milik Belanda. Di pabrik gula ada anjing yang suka menggonggong dan mengganggu setiap ada orang lewat. Namun kalau ada tamu Buyut Tuban lewat di depan pabrik itu dan diantar anjing milik Buyut Tuban, anjing yang di pabrik itu diam tidak menggonggong atau mengagganggu.

Mendengar dirinya disebut kyai kirik Buyut Tuban hanya tersenyum. Namun tiba-tiba saja kerbau yang disiapkan untuk disembelih untuk hajatan mengamuk tanpa diketahui sebabnya. Padahal kerbau itu dipancang dengan tambang yang kuat. Suasana menjadi kacau, orang-orang lari ketakutan, ada yang bersembunyi di balik pepohonan, ada yang berteriak-teriak “ana kebo edan….ana kebo ngamuk… (ada kerbau gila, ada kerbau mengamuk}”.

Lalu tiba-tiba muncullah anak muda dari arah dapur, dengan gesit dia menangkap tali kekang kerbau yang sedang mengamuk, kemudian menepuk-nepuk lehernya, seketika itu juga kerbau diam tidak mengamuk lagi. Pemuda itu adalah Buyut Madinah, adik kandung Buyut Tuban.

Melihat kejadian tersebut, para kyai yang hadir berucap “adine bae bisa newak kebo ngamuk, apamaning kakange” {adiknya saja bisa menangkap kerbau ngamuk, apalagi kakaknya).

Wallahu a’lam.

(Kisah ini diceritakan oleh Ust. Drs. Arifin Muslim, sebagaimana diceritakan kepadanya oleh Drs. H. Idi Saidi (alm) bin Kyai Hamim bin Buyut Abd. Rouf bin Buyut Madinah bin Syekh Buyut Nurshomad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *